Abis
gue posting masalah imunisasi simultannya Izan, gue dapet telp dari maknya
Fadlan (alloo Na :D…) dan nanya masalah apa Izan nga trauma di suntik
langsung 3? Jadi berhubung gue nga mungkin bacain perihal imunisasi simultan
lewat telp, jadi gue posting’in hal ini biar pada jelas.
Sebelumnya
pas gue bilang ama ayahna Izan kalo saat imunisasi nanti gue maunya Simultan
dan begitu tau kalo simultan itu disuntik lebih dari satu kali, langsung reaksi
ayahna Izan bilang, ” kok tega sihh Bun? Kan kasian satu aja sakit
apalagi lebih dari satu..”Akhirnya gue bilang,” kalo sakit
sih pasti dan yg jelas mau disuntik sekali atau ngga, tetep aja Izan bakal di
suntik dengan jumlah suntikan yg dibutuhkan Izan, misalnya saat 2bulan Izan kan
perlu Imun DPT,HIB,HEP B & Polio, berarti Izan perlu disuntik 3kali (kalo
DPT&HIBnya nga combo yeee…) naahh kalo Izan disuntik satu kali aja, nantinya
tetep aja Izan mesti disuntik 3kali, dan berarti Izan mesti bolak balik ke
rumah sakit buat disuntik, daripada mesti bolak balik yang bakal bikin Izan trauma
karena dia akan tau kalo ke rumah sakit bakal di suntik berarti traumanya Izan
akan nambah…sementara kalo Izan dateng Cuma sekali trus langsung disuntik
3x atau 2x bakal mengurangi atau menghilangi trauma yang akan timbul, lagian
sakitnya dan nangisnya pada saat di suntik aja, abis di suntik juga diem kalo
mau gampang tinggal disusuin dehh, beres kan..”
Alhamdulillahnya
ayahna Izan langsung setuju apalagi pas gue bilang keuntungan lain simultan tuh
bakal irit waktu/tenaga dan biaya pastinya (ini sih favorit gue secara gue kan
bundana yang irit bin hemat :P), bikin dia makin yakin lagi setelah gue kasih
print-an dari CDC ini. Reaksi yang sama dateng dari Nma dan eyangnya Izan,
penyelesaiannya sama aja, kalo masalah aman atau nga sihh, udah pasti gue yakin
aman kalo nga aman, nga mungkin laaahhh CDC nganjurin hal ini kann?
Selain
itu hal yang paling bikin gue takut kalo bolak balik ke rs itu adalah efek dari
virus nosokomial (ini bahasan lain yeee jadi kalo mau tau apa ini bisa browsing),
yang bahaya banget buat kita apalagi buat bayi dehh…even kalo imunisasi
di dokter umum pun tetep aja ada kemungkinan kena virus ini.
Hambatan
buat simultan itu lumayan juga dan yang paling sering sih reaksi dari dokternya
adalah ibu tega anaknya disuntik lebih dari satu kali? Kalo itu mahh gue mantep
jawabnya tega dok :P , atau reaksi dokter lain yaitu bakal nakut-nakutin dengan
bilang itu bahaya/efeknya negative sama anak dan kalo itu gue sih balik nanya,”
efeknya apa dok soalnya saya baca di CDC nga ada tuh dok, malah di anjurin…”.untungnya
sih semua alasan yang pernah gue dapet dari dokter berakhir dengan imunisasi
simultan, nga sampai kejadian gue kasih tuh dokter print-an CDC walopun
sebenernya gue bawa dan mungkin bakal gue kasih kalo tetep nga simultan hehehe…
Yang
pasti keuntungan lain dari imunisasi simultan itu imunisasinya bakal tepat
waktu, oia pernah gue alamin kalo imunisasi nga bisa kalo anak lagi
batpil/demam dan saat itu gue lagi zaman kegelapan (minjem istilah orang :D)
dan ternyata batpil/demam itu bukan halangan buat imunisasi, asliiii bĂȘte gue
kena dikadalin maa th dokter :((
Yuukk
aahhhh imunisasi simultan buat anak kita dan kita juga dong..
Ps:buat
yang dokter sorry yaaa
***************************************************************************
href="http://www.cdc.gov/od/science/iso/multiplevaccines.htm">http://www.cdc.gov/od/science/iso/multiplevaccines.htm
THE SAFETY OF MULTIPLE VACCINES
MULTIPLE VACCINES AND THE IMMUNE SYSTEM
1. Berapa jumlah vaksin yg
direkomendasikan CDC untuk diberikan pada anak-anak?style='font-size:12.0pt'>
Saat ini CDC merekomendasikan pemberian imunisasi untuk melawan 12 penyakit
yang bisa dicegah melalui vaksin. Seorang anak bisa mendapatkan sampai 23
imunisasi begitu dia mencapai 2 tahun karena beberapa vaksin tersebut ada yg
harus diberikan lebih dari satu kali. Tergantung pada waktunya, seorang anak
dapat mendapat maksimum 6 suntikan dalam satu kunjungan dokter.
2. Mengapa CDC merekomendasikan banyak
imunisasi untuk anak-anak?
CDC merekomendasikan imunisasi untuk melawan 12 penyakit menular yaitu: campak,
gondongan, rubella, cacar air, hepatitis B, diphtheria, tetanus, pertussis,
Haemophilus influenzae type B (Hib), polio,influenza dan penyakit pneumococcal.
Vaksin adalah perlindungan terbaik melawan penyakit-penyakit ini yang sering
menyebabkan komplikasi serius seperti pneumonia, meningitis, kanker hati,
infeksi dalam aliran darah dan bahkan kematian.
3. Mengapa imunisasi dilakukan pada waktu
bayi? Bukankah lebih aman kalau menunggu sampai mereka lebih besar?
Imunisasi diberikan pada anak-anak karena pada saat inilah mereka lebih rawan
terhadap beberapa penyakit. Bayi yang baru lahir kebal terhadap beberapa
penyakit karena mereka memiliki antibodi yang mereka dapat dari ibu. Namun
kekebalan ini hanya bertahan sampai umur 1tahun. Selain itu, anak-anak umumnya
tidak punya kekebalan maternal terhadap diphtheria, pertussis, polio, tetanus,
hepatitis B ataupun Hib. Jika seorang anak tidak memperoleh imunisasi dan
terpapar kuman pembawa penyakit, badan anak tersebut mungkin tidak akan kuat
untuk melawan penyakit tersebut.
Sistem kekebalan tubuh bayi lebih siap untuk merespon kehadiran sedikit antigen
yang sudah dilemahkan dan dibunuh dalam vaksin. Bayi memiliki kapasitas untuk merespon
kehadiran antigen asing, bahkan sebelum mereka lahir.
4. Saya pernah mendengar orang-orang
membicarakan vaksin “simultan” dan “kombinasi”. Apa
artinya? Kenapa pemberian imunisasi seperti itu?
Imunisasi simultan ("Simultaneous vaccination") adalah pemberian
imunisasi ketika lebih dari satu vaksin diberikan dalam satu kali kunjungan
dokter, biasanya
di bagian tubuh berbeda (contoh: satu di masing-masing lengan atau paha).
Vaksin kombinasi (“combination vaccine”) terdiri dari dua atau
lebih vaksin terpisah
yang telah dijadikan satu dalam satu kali suntik. Vaksin kombinasi telah
digunakan di Amerika Serikat sejak pertengahan 1940-an. Contoh vaksin kombinasi
yang sekarang digunakan adalah: DTap (Diphteria-Tetanus-Pertussis), trivalent
IPV (3 strain polio yang telah dilemahkan), MMR (measles-mumps-rubella),
DTaP-Hib dan Hib-HepB.
Ada dua faktor praktis yang mendukung pemberian imunisasi simultan pada anak
dalam satu kali kunjungan. Pertama, kami ingin memberikan imunisasi
pada anak secepatnya supaya mereka terlindungi pada awal-awal bulan kehidupan
mereka. Kedua, memberikan beberapa vaksin pada saat yang bersamaan berarti mengurangi
kunjungan dokter dan ini menghemat waktu dan uang orang tua, bahkan dapat
mengurangi trauma pada anak.
5. Apakah imunisasi simultan aman
dilakukan? Bukankah lebih aman untuk memisahkan vaksin dan memberikan jeda yang
cukup antar pemberian vaksin sehingga imunisasi hanya untuk satu penyakit
sekali datang ke dokter?
Data ilmiah yang ada menunjukkan bahwa imunisasi simultan dengan menggunakan
lebih dari satu vaksin tidak memilik efek yang membahayakan sistem kekebalan tubuh
anak normal. Sejumlah riset telah dilakukan untuk meneliti efek dari pemberian
berbagai macam vaksin secara simultan dan hasilnya membuktikan bahwa vaksin yg
direkomendasikan sama-sama efektif baik diberikan sendiri maupun simultan, dan kombinasi-kombinasi
itu tidak memiliki resiko lebih tinggi untuk efek samping yang berbahaya. Oleh
karena itu, Advisory Committee on Immunization Practices (ACIP) and the
American Academy of Pediatrics (AAP) merekomendasikan pemberian imunisasi
simultan untuk semua imunisasi rutin anak-anak bila memungkinkan.
Benefit lain dari vaksin kombinasi adalah berkurangnya jumlah suntikan
imunisasi dan trauma pada anak. Selain itu, merentangkan waktu imunisasi dan
memberikannya satu demi satu dapat memposisikan anak rawan terhadap penyakit
yang berbahaya, padahal situasi ini dapat dihindari.
6. Dapatkah begitu banyaknya imunisasi
yang diberikan kepada anak pada umur yang begitu muda justru menekan sistem
kekebalan tubuh anak sehingga
malah tidak berfungsi dengan benar?
Tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa pemberian imunisasi yang
direkomendasikan pada waktu kecil dapat meng- “overload” sistem
kekebalan tubuh. Sebaliknya, sejak bayi baru lahir, mereka telah terpapar pada berbagai
bakteria dan virus tiap harinya. Makanan membawa bakteria baru ke dalam tubuh,
berbagai macam bakteria hidup di dalam mulut dan hidung dan anak kecil
memasukkan tangan atau benda lain ke dalam mulutnya beratus-ratus kali tiap jam
nya sehingga sistem kekebalan tubuh terekspos pada antigen-antigen lainnya.
Infeksi Saluran Pernafasan Atas (ISPA) mengekspos seorang anak terhadap 4-10
antigen, dan dalam kasus “strep throat” sampai 25-50 antigen. Imunisasi
yang diberikan dalam dua tahun pertama kehidupan dianalogikan seperti
“tetesan hujan dilautan kuman dan antigen yang sistem kekebalan tubuh seorang
anak temui dalam lingkungan tiap harinya dan sistem kekebalan tubuh itu sukses
melawan kuman-kuman tersebut.” (Vaccine Education Center,
Children’s Hospital of Philadelphia. href="http://www.vaccine.chop.edu/concerns.shtml#question4">http://www.vaccine.chop.edu/concerns.shtml#question4)
References
Tortora GJ, Anagnostakos NP. Principles of Anatomy and Physiology, 3rd ed.
Harper and Row Publishers, New York, 1981.
Whitney EN, Hamilton EMN, Rolfes SR. Understanding Nutrition, 5th ed. West
Publishing Company, St. Paul,Minn., 1990.
Page last modified: May 17, 2007
This page was last reviewed on 19 December 2006.