***Sebelumnya maaf kalo postingan ini mengandung SARA, nga ada maksud apa-apa tapi murni kondisinya***
Suami murni orang Jawa secara ortunya murni orang Jawa juga. Sementar gue, bokap orang Sunda murni dan nyokap orang Jawa dengan ibunya orang Sunda & bapaknya orang Jawa. Tapi berhubung nyokap lahir & besar di Bandung jadi lebih merasa sebagai orang Sunda apalagi bapaknya nyokap alias aki gue nga pernah meributkan statusnya sebagai orang Jawa. Aki nga pernah ngajarin anak-anaknya yang 12 orang itu tentang adat istiadat Jawa apalagi bahasa Jawa jadi wajar kalo anak-anaknya nga merasa orang Jawa. Belum lagi Eni gue atawa ibunya nyokap pun sama sekali tidak pernah mengajarkan adat istiadat Sunda.
Kedua ortu nyokap lebih menekankan kepada ajaran agama sejak dini. Menurut mereka, agama lebih penting daripada suku. Hal itu pula yang dipakai nyokap bokap gue dalam mendidik anak-anaknya. Hasilnya gue dan adik-adik nga ada yang bisa bahasa Sunda apalagi tau adat istiadatnya.
Beda sama keluarga suami yang sangat kental kehidupannya dengan kultur Jawa. Hasilnya antara gue dan suami kadang cukup menimbulkan konflik.
Izan jadi korbannya saat ini. Sejak Izan lahir keluarga suami membiasakan memberi nama panggilan dengan embel-embel maz Izan. Sementara gue sekeluarga manggil Izan dengan embel-embel ade dengan alasan Izan belum punya adik dan biarkan Izan menikmati masa-masanya sebagai anak tunggal.
Saat Izan punya adik tadinya gue pun berniat memanggil dengan embel-embel maz. Tapiiii masalahnya Izan rupanya sudah punya pilihan sendiri yaitu kakak.
Nga tau dari mana tiba-tiba aja Izan memanggil dirinya sendiri dengan sebutan kakak. Gue merasa Izan punya hak untuk memilih meskipun masih batita dan sebagai apresiasi gue menghargai pilihan Izan akhirnya gue pun memanggil Izan dengan panggilan kakak atau kak Izan.
Keluarga gue pun melakukan hal yang sama. Tapiii sikap gue dan keluarga gue menimbulkan masalah bagi keluarga suami. Mereka tidak menerima Izan dipanggil dengan sebutan kak dengan anggapan Izan orang Jawa maka harus dibiasakan panggilannya Maz.
Awalnya gue nga ambil pusing karena bagaimanapun juga gue kuatir kalo Izan dipaksa menerima panggilan tsb Izan akan tumbuh menjadi pribadi yang kurang percaya diri, nga berani mengeluarkan pendapat dan tidak mau terbuka pada orang tuanya.
Rupanya alasan gue ditolak dengan alasan tidak dibiasakan. Mungkin Izan bisa dibiasakan kalo Izan belum punya pilihan tapi masalahnya Izan sudah punya pilihan dan biarpun Izan batita tolong hargai selera dan pilihan Izan.
Saat ini gue merasa kasian dengan Izan. Saat berada dilingkungan suami setiap Izan menyebut dirinya kakak maka akan langsung diingetkan dengan mengulang ucapan maz yang kadangkala dengan aksi menatap kuat alias melotot kepada Izan.
Saat ini bukan cuma itu saja, rupanya ketika Izan tidur dengan keluarga suami entah apa yang dilakukannya. Saat tengah malam Izan nangis terbangun dan meminta pulang sambil mencari ayahna. Gue sendiri kaget dan bingung karena tidak biasanya Izan seperti itu.
Ketika pulang Izan terlihat berubah. Izan yang awalnya selalu menyebut dirinya kakak tiba-tiba meralat ucapannya maz dengan nada lirih pelan dan seperti dalam keadaan tertekan. Berkali-kali gue melihat Izan seperti kebingungan dan ketakutan setiap Izan reflek menyebut panggilannya kakak.
Gue langsung tanggap dan curiga saat Izan nginep di keluarga suami dan juga saat tidak biasanya Izan tiba-tiba menangis tengah malam. Langsung gue tanya ama Izan ada apa di sana dan kenapa Izan tiba-tiba mengubah sebutannya sendiri. Izan cerita rupanya Izan dimarahin kalo nyebut dirinya kakak dan Izan harus menggantinya dengan sebutan maz. Jujur gue kaget, sedih, marah dan kecewa dengan sikap seperti itu. Knapa harus memaksakan hal sepele seperti itu. Sepele karena hanya masalah panggilan tapi buat Izan lebih dari itu. Izan memilih sendiri panggilan itu tanpa arahan atau instruksi dari gue atau keluarga gue seperti yang mereka tuduhkan. Izan memilih sendiri karena Izan mempunyai selera sendiri. Yang gue mau tolong hargai pilihan Izan. Dengan memaksakan kemauan kita terhadap Izan akan menimbulkan masalah baru pada diri Izan. Merasa tidak dihargai pilihannya, tidak percaya diri, takut mengemukakan pendapat merupakan kemungkinan yang akan muncul pada diri Izan saat dewasa nanti.
Tapii semua alasan gue ditolak dengan alasan karena tidak dibiasakan saja. Jujur saat ini gue kasian melihatnya... Haruskah gue mengikuti kemauan keluarga suami dengan kemungkinan tsb bisa muncul? Haruskah gue tetep memberikan Izan kebebasan walopun efeknya konflik tsb akan tetep ada?
Buat yang merasa orang Jawa tolong sarannya apakah sangat pentingkah masalah panggilan ini? Please banget advisenya, apa yang harus gue lakukan..
Buat yang ngerti masalah psikologis, apakah kondisi ini akan mempengaruhi kejiwaan Izan saat besar nanti?
Gue mencoba untuk menahan diri tapi lama kelamaan gue muntah juga karena gue sangat butuh masukan dari MPers... Please banget inputnya, apa yang yang harus gue lakukan...
Ket foto: Izan yang lagi bimbang dengan mata sembab akibat kakak & maz..