Selama 3 hari, hubungan gue dan suami setelah sebelumnya perang dingin akibat
panggilan Izan tea, akhirnya perlahan mulai mendapat titik terang.
Suami akui menurutnya panggilan maz itu emang penting. Selain itu suami menganggap keluarga gue yang mendoktrin Izan duluan dengan panggilan kakak. Ide panggilan kakak itu lagi-lagi dianggap dari keluarga gue. Semuanya karena bersumber dari candaan nyokap ke Izan. Nyokap becanda -maaf sebelumnya kalo ada yang tersinggung lagi- kalo panggilan maz itu seperti panggilan tk sayurnya nyokap yaitu maz Budi, yang apesnya suami mendengar. Lagipula kalo nyokap anggap panggilan itu penting pastinya akan mengajari atau mendoktrin Izan untuk pake panggilan Sunda seperti Aa,Kang atau Akang tapi untungnya tidak karena memang nyokap dan kel gue tidak peduli Izan dipanggil apa. Jujur aja, gue dan kel gue sangat kaget dan tidak menyangka kalo masalah panggilan bisa menjadi sumber keributan. Selain itu nyokap juga akui lupa menantunya super duper sensitif dan nga sadar saat mengucapkan itu akan menyinggung suami karena memang murni keceplosan. Mungkin ini yang disebut lidah membawa petaka kare
na kadang hanya bermaksud becanda tapi jadi masalah besar -sigh-. Karena candaan nyokap membuat gue dan keluarga dituduh mendoktrin Izan supaya tidak mau dipanggil maz.
Nga kebayang kalo gue juga menganggap panggilan penting dan ngotot Izan harus dipanggil ala Sunda bisa PD III. Untungnya tidak euy.
Alhamdulillahnya suami sepakat untuk menunggu Izan besar sehingga Izan bisa menentukan pilihannya sendiri. Selain itu suami setuju untuk meminta keluarganya berhenti mendoktrin Izan agar meralat ucapannya setiap kata kakak yang keluar.
Selain itu untuk saat ini, kami sepakat suami dan keluarga tetep memanggil Izan sebutan maz sementara gue dan keluarga tetep memanggil Izan sebutan kakak. Tujuannya biar Izan tau kalo di dunia ini ada perbedaan dan orang bebas menentukan pilihan. Harapannya Izan juga nanti bisa bebas menentukan pilihan karena mulai saat ini Izan akan terbebas dari doktrin keluarga suami atau gue.
Hikmahnya kadar penting seseorang ternyata berbeda sampai kadang melupakan hal yang lebih penting. Selain itu gue dan keluarga gue terutama nyokap belajar untuk menjaga ucapan walopun hanya guyonan. Maklum keluarga gue tukang becanda secara dari Bandung yang kadang masalah besarpun bisa jadi bahan candaan supaya tidak terlalu stress.
Selain itu, suami meminta gue dan keluarga tidak memanggil Iva sebutan neng dengan alasan tidak mau kejadian yang sama terulang sama Iva. Alhamdulillahnya nyokap setuju karena menganggap tidak penting.
Jujur aja gue baru menyadari kalo status suku dianggap sangat penting untuk diajari. Maklum gue cuma sadar kalo gue orang Sunda tapi nga pernah sekalipun nyokap atau alm bokap sengaja mengajari anak-anaknya bahasa Sunda atau adat istiadatnya karena menurutnya itu bukan hal penting. Jadi kalo ada yang tau gue orang Sunda dan ngajak gue ngomong Sunda dijamin akan nga nyambung, wong gue cuma ngerti ala kadarnya hehhe. Beda banget ama kel suami -sigh- padahal menurut gue ada yang lebih utama dalam mendidik anak yaitu Agama, moral dan pendidikan sekolah. Pelajaran penting yang gue dapet setelah keributan ini.
Selama proses komunikasi ini kami -gue tepatnya- lebih memilih dengan SMS daripada bicara langsung. Bukan apa-apa, gue menghindari supaya kata-kata yang keluar dapat disortir dan tidak terpancing emosi sehingga tidak ada yang merasa sakit hati lagi.
Smua gue lakukan demi 2i. Menjelang 5th pernikahan kami ternyata sumber keributan terbesar pertama kalinya justru dari hal yang gue anggap sepele hiks. Gue masih harus belajar untuk mengalah dan mengerti suami walopun jika berhubungan dengan tumbuh kembangnya 2i kami belum sepaham. Smoga ke depannya, kami bisa menjadi orang tua yang kompak agar terhindar dari konflik seperti ini.
Lelah rasanya tidak bisa tidur nyenyak dan kering sudah air mata ini.
MPers punya tips & trik menghadapi pasangan & kel besarnya yang super duper sensitif? Mau dong di share...